Kalau Dia Sama yang Lain Gimana? Nasihat Bijak untuk Para Jomblowan dan Jomblowati
Sebuah kekhawatiran klasik yang bikin sholat jadi ngga khusyuk dan tidur jadi ngga nyenyak.
Sudah lama aku simpan rasa ini. Entah ia makin matang menjadi doa yang tulus, atau justru membusuk karena tercampur adukan gelisah dan ketakutan.
Jujur, aku sadar diri. Dia adalah definisi "layak diperjuangkan".
Dia pintar, good looking, paham agama, dan insya Allah taat. Paket lengkap yang diidamkan banyak orang.
Sedangkan aku? Masih jauh dari kata sempurna. Ibadah masih sering bolong, ilmu pas-pasan, dan finansial masih merangkak. Kalaupun aku harus memantaskan diri dulu, rasanya butuh waktu yang ngga sebentar.
Lalu, di tengah proses itu, setan mulai membisikkan skenario terburuk di telingaku:
"Kalau dia keburu sama yang lain gimana?" "Gimana kalau besok ada orang yang lebih siap, lebih shalih, dan lebih berani datang mengetuk pintu rumahnya duluan?"
Stop. Tarik napas dulu.
Daripada overthinking sampai kurus, yuk kita kembalikan lagi logikanya ke jalur langit.
Ingat ya, masalah hati itu wilayahnya Allah.
(Sering denger kan? "Tulang rusuk ngga bakal ketuker". Kedengerannya klise, tapi itu valid banget. Nama jodohmu itu sudah tertulis di Lauhul Mahfudz jauh sebelum kamu lahir. Ngga ada satu orang pun, sehebat dan seberani apapun sainganmu, yang bisa menghapus nama itu kalau Allah sudah berkehendak).
Kalau memang dia tertulis untukmu:
Sejauh apapun dia pergi, atau siapapun yang mendekatinya sekarang, Allah punya 1001 cara untuk "memulangkan" dia kepadamu di waktu yang paling tepat. Jalannya bisa lewat mana saja yang ngga masuk akal logikamu.
Tapi, kalau memang dia bukan untukmu:
Sekeras apapun kamu menjaga, atau secepat apapun kamu melamar, Allah pasti akan pisahkan. Dan percayalah, perpisahan itu adalah cara Allah menyelamatkanmu, untuk diganti dengan sosok yang jauh lebih baik dan lebih pas dengan kebutuhan agamamu.
Jadi, tugasmu sekarang bukan sibuk memikirkan "siapa sainganku", tapi sibuklah memikirkan "bagaimana kualitas diriku di hadapan-Nya".
Fokus saja memantaskan diri. Biar Allah yang urus sisanya.
Ya Allah, jika dia baik untuk agama dan duniaku, dekatkanlah dengan cara yang Engkau ridhoi. Namun jika tidak, gantikanlah rasa ini dengan ketenangan, dan pertemukan aku dengan seseorang yang mencintai-Mu lebih dari segalanya.
Siapa yang lagi ada di fase "takut ketikung" dalam doa? Sini kumpul, kita aminkan bareng-bareng!
